Angka yang jarang dihitung
Menurut data OJK, uang pangkal sekolah di Indonesia rata-rata naik 10 sampai 15 persen per tahun — bukan inflasi umum yang 3 sampai 4 persen, tapi hampir empat kali lipatnya. Data BPS mempertegas ini dengan mencatat bahwa biaya pendidikan sekolah dasar saja sudah naik 35 persen hanya dalam tiga tahun terakhir.
Artinya dalam hitungan konkret, jika uang pangkal sekolah saat ini ada di angka 50 juta rupiah, sepuluh tahun ke depan angka itu bisa mencapai 150 sampai 200 juta rupiah hanya untuk masuk sekolah yang sama. Dan ini baru uang pangkal — belum SPP bulanan, biaya seragam, buku, les, ekstrakurikuler, dan puluhan pengeluaran kecil lain yang kalau dijumlahkan bisa menyamai biaya pokoknya.
Coba bayangkan proyeksi biaya satu anak dari SD sampai sarjana dengan asumsi inflasi pendidikan 10 persen per tahun. Angka yang muncul bukan untuk menakut-nakuti — ini angka yang perlu kamu ketahui agar bisa merencanakan dengan tepat.
| Jenjang | Biaya saat ini / tahun | Durasi | Proyeksi (inflasi 10%) |
|---|---|---|---|
| SD | Rp 5 - 20 jt | 6 tahun | Rp 47 - 188 jt total |
| SMP | Rp 8 - 25 jt | 3 tahun | Rp 57 - 178 jt total |
| SMA | Rp 10 - 30 jt | 3 tahun | Rp 75 - 225 jt total |
| Kuliah (S1) | Rp 15 - 60 jt | 4 tahun | Rp 195 - 781 jt total |
| Total SD sampai S1 | Rp 374 jt - 1,37 M per anak | ||
Kenapa tabungan biasa tidak akan pernah menang
Deposito bank saat ini menawarkan bunga sekitar 2 sampai 4 persen per tahun. Reksadana pasar uang memberikan return sekitar 4 sampai 6 persen per tahun. Keduanya masih jauh di bawah inflasi pendidikan yang bergerak di 10 sampai 15 persen per tahun.
Artinya jika kamu menyimpan uang di instrumen-instrumen ini, secara matematis uangmu tumbuh lebih lambat dari tagihan yang akan kamu hadapi — bukan karena kamu tidak rajin menabung, tapi karena gap antara pertumbuhan tabungan dan pertumbuhan biaya pendidikan terus melebar setiap tahunnya.
Ini yang disebut education inflation gap — selisih antara return investasi kamu dan laju kenaikan biaya pendidikan. Semakin besar gap-nya, semakin jauh kamu tertinggal meskipun kamu terus menabung setiap bulan tanpa gagal.
Instrumen yang perlu masuk dalam rencana
Framework alokasi berdasarkan usia anak
Tidak ada satu instrumen tunggal yang sempurna. Yang dibutuhkan adalah kombinasi yang dirancang untuk mengalahkan inflasi pendidikan secara konsisten. Berikut framework sederhana yang bisa langsung diterapkan.
Satu hal yang sering terlewat
Banyak orang tua yang sudah disiplin menabung tapi lupa memperhitungkan satu variabel penting: konsistensi. Investasi yang kecil tapi konsisten akan selalu mengalahkan investasi besar yang tidak teratur. Efek compounding bekerja paling optimal ketika diberi waktu yang panjang dan tidak pernah terputus.
Mulai dengan angka yang bisa kamu komitmen setiap bulan tanpa mengganggu kebutuhan lain, lalu naikkan secara bertahap seiring pertumbuhan penghasilan. Jangan tunggu punya uang lebih dulu untuk mulai, karena menunggu adalah biaya terbesar dalam perencanaan pendidikan anak — setiap bulan yang terlewat tidak bisa dibeli kembali.